Kerusakan lingkungan penyebab bencana sampai saat ini belum teratasi. Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, hingga 2010, ada 18 situ yang hilang di Jabodetabek dan sekitar 144 lainnya terganggu. Kondisi ini diperparah dengan adanya 168.719 hektar lahan kritis di Puncak.
Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta, Selasa (16/2), mengatakan, selain situ-situ yang hilang, ada tiga situ yang kini kondisinya amat rawan. ”Ketiga situ itu adalah Parigi di Tangerang Selatan, Ciledug di Tangerang, dan Rawa Kalong di Bekasi. Sekarang sedang diupayakan pelestariannya. Secara keseluruhan, hanya ada 72 situ yang tergolong baik,” kata Gusti.
Di Jawa Barat, khususnya di Puncak dan Bogor, ujar Gusti, hanya tersisa kawasan tampungan air dengan volume 13.455.550 meter kubik atau 47 persen dari yang dibutuhkan untuk menanggulangi banjir bandang dan longsor di daerah hulu ataupun banjir Jakarta.Dengan fakta tersebut, Gusti gencar menertibkan pelanggaran dan perusakan lingkungan di kawasan hulu, seperti yang sedang berlangsung di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
”Penertiban vila-vila yang melanggar peruntukan di Halimun merupakan salah satu upaya kami. Semoga penegakan hukum ini berdampak positif dan menambah kawasan tangkapan air,” kata Gusti.
Banjir yang menghantui Jakarta, sesuai dengan penelitian KLH, akan bisa diatasi jika proyek-proyek kanal banjir terselesaikan sempurna dan tampungan air diperluas. Salah satu usulan Pemprov DKI adalah dibangunnya waduk di Ciawi, Bogor.
”Ini masih dipelajari oleh KLH ataupun Menteri Pekerjaan Umum. Untuk menanggulangi banjir sepertinya tidak bisa, tetapi mungkin fungsi konservasi alamnya cukup besar. Namun, belum bisa ditentukan jadi atau tidak pembangunannya,” kata Gusti.
Genangan
Belum teratasinya masalah dasar penyebab banjir berdampak buruk. Seperti terlihat Selasa kemarin, genangan segera bermunculan di banyak titik di Jakarta setelah hujan lebat berdurasi lebih kurang satu jam.
Salah satu ruas jalan yang tergenang adalah ruas jalur lambat di Letjen Suprapto, terutama di muka Pasar Cempaka Putih dan di jalan aspal antara Manggarai dan Latuharhari, tepat di tepi kanal barat. Genangan air yang terjadi itu membuat lalu lintas tersendat.
Sementara itu, warga RW 7 Kelurahan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, terpaksa berswadaya membangun tanggul sepanjang 300 meter dengan tinggi 1,5 meter untuk mengantisipasi air pasang dan luapan Kali Angke.(ONG/ART/NEL)