Menurut Agus, rencana pemantauan pohon yang akan ditanam hingga kini belum juga diputuskan. Dia mengakui, metode pemantauan ini merupakan kesulitan tersendiri yang memang harus segera diatasi.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan pada Kementerian Kehutanan Tachrir Fathoni mengatakan, pemantauan vegetasi selama ini dilakukan dengan menggunakan citra satelit Landsat.
Kementerian Kehutanan juga memiliki enam pesawat ringan khusus untuk memantau wilayah taman nasional.
”Rencana pemantauan program penanaman satu miliar pohon memang belum ditetapkan,” kata Tachrir.
Enam pesawat
Sebanyak enam pesawat ringan yang dioperasikan Kementerian Kehutanan digunakan untuk memantau wilayah Taman Nasional Wakatobi di Papua, Taman Nasional Alas Purwo di Jawa Timur, Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah, Taman Nasional Gunung Palung di Kalimantan Barat, Taman Nasional Wasur di Merauke, dan Taman Nasional Sembilang di Sumatera Selatan.
Menurut Tachrir, pemantauan penanaman pohon sangatlah penting karena mengacu komitmen mekanisme pengukuran, pelaporan, dan pemeriksaan dalam konteks reduksi pemanasan global.
Teknologi pemantauan pohon yang baru ditanam hingga berusia lebih dari tiga sampai lima tahun kemudian sebetulnya sudah diterapkan lembaga swadaya masyarakat WWF-Indonesia.
Beberapa waktu lalu, dalam program penanaman pohon untuk program Nokia ”Give and Grow” juga diterapkan teknik geotag. Teknik ini memungkinkan pemantauan kondisi pohon pada waktu riil.
Organisasi WWF-Indonesia sejak 2007 hingga sekarang melakukan pemantauan terhadap penanaman pohon di empat lokasi.
”Pemantauan penanaman pohon menggunakan teknologi kamera digital dan GPS (Global Positioning System) yang dapat diunggah ke internet dan dapat diketahui seketika,” kata Direktur Kebijakan dan Pemberdayaan WWF-Indonesia Nasir Foead.
Empat lokasi yang dipantau penanaman pohonnya meliputi Taman Nasional Sebangau untuk penanaman pohon seluas 291 hektar. Selain itu, juga Taman Nasional Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, seluas 279 hektar.
Teknik tersebut juga diterapkan di daerah lain, misalnya di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai Ciliwung, Desa Cikoneng, Bogor, untuk pemantauan pohon di areal penanaman 10 hektar. Kemudian di Gunung Cyclops, Papua, untuk memantau areal 8 hektar di lokasi tanah adat.
Bekerja sama
Metode pemantauan pohon ini akan diterapkan Kementerian Kehutanan. Nasir mengatakan, WWF-Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan Kementerian Kehutanan dan saat ini sudah menempuh penandatanganan nota kesepahaman.
Selama ini program penanaman pohon telah banyak dilakukan pemerintah. Namun, evaluasi beserta pemantauan hasilnya secara intensif belum dilaksanakan secara optimal.
”Pemantauan akan melibatkan peran masyarakat setempat. Masyarakat akan dibagi-bagi ke dalam sejumlah kelompok untuk menjaga supaya pohon yang dipantau terus tumbuh dengan baik,” kata Nasir. (NAW)
Jakarta, Kompas - 11 Februari 2009
Source:http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/11/04284912/realisasi.dan.pemantauan.belum..diatur.rinci