|
Shalawat Bumi: Kisah Pilu Lingkungan Indonesia |
|
Green Policy
|
|
Monday, 11 January 2010 22:57 |
|
Mengenang kisah lingkungan hidup di Indonesia tahun 2009 lalu, maka warga hijau hanya merefleksikannya melalui puisi yang ditulis oleh salah satu warga hijau sdri. Cin Hapsari, yang berjudul "Shalawat Bumi".
Shalawat Bumi Oleh Cin Hapsari "Ada tambang merobek dagingku Luka masih menganga terbuka Busuk untuk seribu tahun ke muka Ada hutan patah dihisap rayap bernama rakus Hijau menahun menanggung derita Untuk seribu tahun ke muka
Kini sawah berwajah sengsara dan ladang-ladang bermuram durja Racun membajak liat sedang cuaca meraung keras menyayat masa panen yang tak lagi kunjung tiba
Lalat-lalat terbang membawa kabar dan oooooouuuhhh, bagaimana harus kunamai cairan pekat yang mengalir di setiap gang-gang kota? Bagaimana harus kusebut udara tebal menyesakkan dada yang mengepul dari jalan-jalan di dalam kota?
Dan bagaimanakah bisa kuceritakan jajaran bintang di langit biru, ikan di laut lepas atau... atau kamboja merah, gunung gagah, tawa cerah, seribu kumbang, kelelawar dan unta?
Anakku... anakku... ini aku ibumu... Ibu bumi yang tegak oleh derita... Ibu bumi yang sobek rahimnya... Banini, banini... lamasabakhtani... Anakku, anakku... mengapa kau tinggalkan daku?"
|